Dampak Mitos Mengenai Kehamilan Terhadap Status Gizi Ibu Hamil

Dampak Mitos Mengenai Kehamilan Terhadap Status Gizi Ibu Hamil

Mitos – mitos kehamilan sebenarnya merugikan kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya

Angka Kematian Ibu di Indonesia pada tahun 2017 sampai bulan maret tercatat 305 per 100.000 kelahiran. Sementara tahun 2016 menunjukkan angka 4834. Penyebab tertinggi kematian ibu yaitu 32% diakibatkan perdarahan. Sementara 26% diakibatkan hipertensi yang menyebabkan terjadinya kejang, keracunan kehamilan sehingga menyebabkan ibu meninggal dan penyebab lain kematian ibu adalah faktor hormonal, kardiovskuler, dan infeksi (KemenKes, 2017).

Penyebab kematian tersebut erat hubungannya dengan asupan gizi pada ibu hamil, seperti perdarahan merupakan salah satu akibat kekurangan zat besi yang juga ada hubungannya dengan asupan gizi pada ibu hamil (Nasir, 2013).

Masa kehamilan merupakan masa dimana ibu membutuhkan berbagai unsur gizi yang lebih banyak dari pada yang diperlukan dari keadaan tidak hamil (Moehji, 2013).

Asupan kebutuhan ibu hamil yang tidak tercukupi dapat berakibat buruk bagi ibu dan janin. Janin dapat mengalami kecacatan atau lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), anemia pada bayi, keguguran, dan kematian neonatal. Ibu hamil yang kekurangan gizi akan menderita Kurang Energi Kronik (KEK), sehingga berdampak kelemahan fisik, anemia, perdarahan, berat badan ibu tidak bertambah secara normal dan diabetes dalam kehamilan yang membahayakan jiwa ibu (Marlenywati, 2010).

Banyak mitos mengenai kehamilan dan kesehatan bayi. Mitos adalah pendapat atau anggapan dalam sebuah kebudayaan yang dianggap mempunyai kebenaran yang isinya tentang anjuran maupun larangan mengenai kehamilan yang pernah berlaku pada suatu masa dahulu hingga sekarang tentunya banyak beredar di masing-masing daerah dan belum tentu kebenarannya. Beberapa mitos dapat bertahan karena sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Banyak mitos terutama yang berkaitan dengan kehamilan dan melahirkan terbukti salah dan tidak juga efektif serta tidak sesuai dengan kemajuan kedokteran dan teknologi sekarang (Nirwana, 2011).

Adapun faktor penyebab terjadinya status gizi kurang (KEK) pada ibu hamil sangat kompleks diantaranya ketidak seimbangan asupan zat-zat gizi, faktor penyakit pencernaan, aborsi dan penyakit infeksi. Sedangkan ada beberapa faktor yang mempengaruhi gizi ibu hamil, diantaranya adalah berat badan, budaya pantang makanan, status ekonomi, pengetahuan zat gizi dalam makanan, umur, suhu lingkungan, aktivitas, serta status kesehatan (Proverawati, 2009).

Mitos – mitos kehamilan sebenarnya merugikan kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Akhirnya ibu hamil menderita kekurangan gizi seperti anemia dan KEK, pendarahan pada saat persalinan serta bayi yang dilahirkan mengalami BBLR (Tino, 2009 dan Khasanah, 2011).

Persepsi terhadap mitos kehamilan baik masalah kematian maupun kesakitan pada ibu sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan dalam masyarakat dimana mereka berada. Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab-akibat antara makanan dan kondisi sehatsakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap kesehatan reproduksi ibu dan kesehatan anak. Hal ini terlihat bahwa setiap daerah mempunyai pola makan tertentu, termasuk pola makan ibu hamil yang disertai dengan kepercayaan akan pantangan, tabu, dan anjuran terhadap beberapa makanan tertentu. Budaya pantang pada ibu hamil sebenarnya justru merugikan kesehatan ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Misalnya ibu hamil dilarang makan telur dan daging, padahal telur dan daging justru sangat diperlukan untuk pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil dan janin. Berbagai pantangan tersebut akhirnya menyebabkan ibu hamil kekurangan gizi seperti anemia dan kurang energi kronis (KEK). Dampaknya, ibu mengalami pendarahan pada saat persalinan dan bayi yang dilahirkan memiliki berat badan rendah (BBLR) yaitu bayi lahir dengan berat kurang dari 2.5 kg. Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi (Peter Salker, 2008).

Upaya Pemerintah dalam menanggulangi ibu hamil dengan risiko KEK menurut Kemenkes RI (2013) yaitu dengan cara meningkatkan pendidikan gizi ibu hamil tentang KEK melalui pemberian Komunikasi Informasi Edukasi (KIE), memberikan pelayanan gizi dan pelayanan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) pada ibu hamil berupa pemberian tablet Fe, melakukan skrining terhadap ibu hamil risiko KEK, dan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) bagi ibu hamil dengan risiko KEK melalui bimbingan gizi dan KIA secara berjenjang.

admin
ADMINISTRATOR
PROFILE

Posts Carousel